ARMD, Penyakit Mata karena Usia

MEMASUKI usia 40 tahun, fungsi penglihatan seseorang biasanya mulai mengalami penurunan. Kondisi yang disebut age related macular degeration ini ditandai dengan mulai buramnya penglihatan.
Bagi Anda yang sudah berusia 40 tahun atau lebih, sebaiknya lebih waspada terhadap kesehatan mata. Sebab, biasanya pada usia ini mata rentan terserang age related macular degeration (ARMD). ”Keluhan yang terjadi pada ARMD umumnya berupa buramnya penglihatan sentral, adanya bintik hitam atau ada bagian yang hitam di tengah–tengah lapangan penglihatan,” ujar ahli kesehatan mata dari Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Cosmos Mangunsong SpM.

Pada kondisi ini retina mengalami penurunan fungsi akibat fotoreseptor yang rusak sehingga tidak bisa diperbaiki lagi dengan baik. Fotoreseptor yang mati seharusnya dicerna penampangnya atau retinal pigment epithelium (RPE) dengan baik, dan hasil cernanya dipakai untuk regenerasi fotoreseptor kembali.

Pada ARMD, proses ini mengalami penurunan sehingga hasil cerna fotoreseptor ditumpuk sebagai sampah dan dideposit di sekitar makula yang disebut sebagai drusen. Adanya drusen ini akan mengganggu penglihatan sentral seseorang sehingga sering menjadi keluhan buram pada penglihatan, terutama di tengah-tengah lapangan pandang.

Meningkatnya angka harapan hidup, tentunya meningkatkan angka kejadian ARMD karena semakin banyaknya penduduk yang berusia di atas 60 tahun. Selain itu, berubahnya gaya hidup saat ini dapat menjadi faktor risiko tingginya kejadian ARMD. Untuk mencegah terjadinya ARMD, pola hidup sehat menjadi pilihannya.

Selain usia, perubahan gaya hidup menjadi penyumbang utama faktor risikonya. Perubahan gaya hidup yang bisa menyebabkan seseorang menjadi obesitas atau bisa juga perokok menyebabkan pula seorang mengalami ARMD. Tingginya kadar kolesterol dan trigliserid juga disinyalir menjadi salah satu pemicu penyakit ini. Lemak jahat dalam jumlah yang banyak di dalam darah menjadi radikal bebas yang merusak sel-sel tubuh, termasuk sel fotoreseptor.

Kebiasaan merokok juga faktor risiko yang kuat terhadap ARMD karena radikal bebas asap rokok menyebabkan kerusakan sel-sel fotoreseptor. Paparan radiasi ultraviolet juga menjadi faktor risiko ARMD karena ultraviolet dapat menyebabkan kerusakan pada fotoreseptor.

”Sinar matahari dan radiasi komputer adalah contoh sumber ultraviolet di lingkungan kita sehari-hari,” kata Cosmos.

Hingga saat ini, pengobatan yang dilakukan bagi penderita ARMD masih terus dikembangkan. ARMD dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe wet dan dry.  Kedua tipe tersebut hanya dapat dibedakan setelah melihat langsung dengan menggunakan alat bantu lensa pembesar atau kamera khusus ke dalam bola mata untuk melihat kelainan retina yang terjadi.

”Penderita ARMDsecara awam mengeluhkan hal yang sama, yaitu pandangan buram, terutama di tengah-tengah lapangan penglihatan,” katanya.

Saat ini ARMD tipe dry diterapi dengan memberikan obat-obat vitamin yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Radikal bebas yang terbentuk di dalam bola mata yang memicu kerusakan retina tersebut. Vitamin yang banyak dianjurkan adalah vitamin A, C, dan E karena terbukti mempunyai efek antioksidan yang tinggi.

”Vitamin tersebut banyak terdapat pada buah-buahan yang berwarna merah dan kekuningan,” papar dokter yang juga menjadi peneliti Community Eye Health FKUI ini.

Untuk tipe ARMD basah, terapinya lebih spesifik karena berupaya mengatasi mekanisme yang terjadi pada retina dan menurunkan penglihatan. Timbulnya pembuluh darah kecil dan rapuh (neovaskular) pada makula retina menyebabkan turunnya ketajaman penglihatan. Saat ini terapi laser yang lazim digunakan adalah photodynamic therapy (PDT).

”Sedangkan terapi paling baru yang sedang dikembangkan adalah menyuntikkan zat penghambat pertumbuhan pembuluh darah ke dalam bola mata,” ucap dokter lulusan Universitas Indonesia ini.

Semakin berkembangnya zaman, maka berubah pula gaya hidup ditambah dengan angka harapan hidup yang semakin tinggi. Gaya hidup serbainstan dan pola makanan berlemak tinggi dan karbohidrat tinggi berisiko tingginya potensi radikal bebas di dalam tubuh sehingga bisa menyebabkan ARMD. Cegahlah ARMD dengan menerapkan pola hidup sehat.

sumber : okezone.com
shareSocial Bookmarking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: